Sabtu, 22 November 2014

Hidup 'Kembali' Setelah Stroke


Setelah menikah, aku pindah ke Depok mengikuti suami yang berdinas di sana. Setahun kemudian, tepatnya bulan Agustus 2006 anak pertama kami Almer lahir. Selain suami, turut menemaniku di ruang bersalin adalah ibu dan mama mertua. 

 Situasi yang begitu mengharu biru, membuat air mata tak terbendung ketika untuk pertama kalinya merasakan perihnya proses melahirkan. Oh ..beginilah rasa sakit yang dialami ibu ketika melahirkanku. Bahkan mungkin lebih sakit lagi, karena tiga puluh lima tahun yang lalu dunia kedokteran tak sehebat sekarang.

Almer berumur 1 minggu bersama nenek (2006)

Zaman sekarang dunia kedokteran semakin canggih. Ada proses kelahiran dengan metode water birth, ada senam hamil, ada meditasi atau yoga, dsb. 

Bagaimana dengan ibu yang melahirkan ke enam anaknya secara normal? Sungguh tak terbayang! Tak pernah kulihat lelah di wajahnya. Meladeni suami dan anak-anaknya dengan tulus. Bahkan ibu masih membekaliku dengan makan siang ketika kuliah dan kerja. Oalah..julukan 'anak ibu' begitu dekat dengan diriku. 

Pernah kuminta untuk tak perlu repot-repot membekaliku dengan makanan.

“Bu, besok tak usah bawa bekal ya. Ada acara di kampus” Ujarku berbohong. Ya, aku berbohong supaya ibu tak perlu repot pagi-pagi menyiapkan bekal siangku.

Sekali dua kali tak membawa bekal makan siang toh aman-aman saja pikirku saat itu. Ternyata aku keliru. Perutku sensitif sekali. Jajan sembarangan, membuat diriku jatuh sakit. Mungkin karena kurang hiegenis terkontaminasi dengan kuman dan bakteri.

Dengan telaten ibu merawatku. Duh..ibu, bila mengenang masa lalu atas semua jasamu, pantaslah bila diriku semakin takzim padamu.

Ada cerita lucu di masa Sekolah Dasar. Kebetulan aku sekolah siang, jadi ibu berniat untuk mendaftarkanku les diniyah yang dilakukan dari pukul 8 sampai 10 pagi. Semacam sekolah agama. Disana aku belajar ilmu fiqih, tauhid, bahasa arab, hapalan surat-surat pendek, dsbnya.

Apa yang terjadi? Aku malah menangis. Aku menangis karena takut gurunya galak-galak. Takut di marahin kalau tidak bisa di kelas. Akhirnya ibu menemaniku belajar di kelas selama hampir sebulan. Dengan sabar ibu duduk menunggu di bangku belakang. Sekali-kali aku menoleh ke belakang, takut ibuku pergi. 

Sekarang ibu begitu rentah di makan usia. Apalagi sejak serangan stroke di akhir tahun 2010. Diabetes, obesitas dan darah tinggi adalah pemicunya. Sepeninggalan ayah tak ada lagi yang mengingatkan pola makan ibu yang 'asal kenyang'.

Couple of different styles. Ayah kurus ibu gemuk. Ayah kurang suka manis, ibu doyan manis. Ayah cenderung cuek ibu galaknya minta ampun. Tapi perbedaan-perbedaan itulah yang menyatukan mereka hingga ayah pergi terlebih dahulu. Kata orang perbedaan adalah rahmat bila kita menyikapinya dengan bijak. 

Desember 2010 saya pulang menjenguk ibu. Aku menangis ketika untuk pertama kalinya bertemu setelah serangan stroke. Tak ada lagi sorot mata ibu yang kerap membulat bila mendengar ceritaku. Mata itu kini sayu, redup membias.

Ibu berbaring di kasur dekat televisi di ruang tengah. Sengaja di tempatkan di sana, supaya orang yang lalu lalang dapat melihat dan melayani ibu. Kaki kiri ibu lumpuh. Untuk berjalan ibu membutuhkan bantuan tongkat atau kursi roda.

Almer 5 tahun bersama nenek (2011)
Semenjak itu ibu berobat kemana-mana. Dari pengobatan secara medis sampai akupunktur. Tiga bulan, enam bulan, belum ada perubahan yang signifikan. Ibu mulai putus asa. Terkadang ibu suka terdiam sampai berjam-jam. Seperti memendam emosi yang siap meledak kapan saja.

Selalu ada hikmah dibalik suatu musibah. Semenjak terkena stroke, kerabat yang jauh berdatangan menjenguk ibu. Kunjungan saudara-saudara memberi semangat baru kepada ibu.

Sekarang ibu sudah lebih ikhlas menerima kondisinya. Pola makan di jaga ketat. Terapi fisik dilakukan dengan latihan ringan, seperti jalan pagi dan tak lupa berjemur di bawah sinar matahari pagi.

Alhamdulillah, sekarang kesehatan ibu membaik. Walau fisiknya sudah tak sekuat dulu, tetapi support dari anak-anak dan kerabat turut membantu pemulihan kondisinya.

Bertepatan dengan hari Pahlawan, 10 November yang lalu, usia ibu sekarang menginjak 69 tahun. Selamat ulang tahun bu, barokallah di sisa usiamu. Amien...




2 komentar:

  1. Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam Kontes Unggulan : Hati Ibu Seluas Samudera
    Segera didaftar
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus